Sunday, June 29, 2008

Kesenian EBEG


Ebeg merupakan bentuk kesenian tari daerah banyumas yang menggunakan peroperti jaranan (boneka kuda) terbuat dari anyaman bambu. Tarian Ebeg di daerah Banyumas menggambarkan prajurit perang yang sedang menunggang kuda. Gerak tari yang menggambarkan kegagahan di peragakan oleh pemain ebeg. Didalam suatu sajian ebeg akan melalui satu sesen yang unik yang biasanya di tempatkan di tengah pertunjukan. Sesen tersebut sebagai mana di kenal dalam bahasa Banyumasan dengan Mendhem (intrans). Pemain akan keseurupan dan mulai melakukan atraksi-atraksi unik. Bentuk atraksi tersebut seperti halnya: makan Beling atau pecahan kaca, makan dedaunan yang belum matang, makan daging ayam yang masih hidup, berlagak seperti monyet, ular, dan masih yang lainnya.


Ebeg termasuk kesenian yang tergolong cukup di perhitungkan dalam hal umur. Diperkirakan kesenian jenis ini sudah ada sejak jaman purba tepatnya ketika manusia mulai menganut aliran kepercayaan animisme dan dinamisme. Salah satu bukti yang menguatkan Ebeg dalam jajaran kesenian tua adalah adanya bentuk-bentuk intrans atu wuru. Bentuk-bentuk seperti ini merupakan ciri dari kesenian yang terlahir pada jaman animisme dan dinamisme.

Pertunjukan Ebeg biasanya di iringi dengan alat musik yang disebut Bendhe. Alat musik ini memiliki ciri fisik seperti gong akan tetapi berukuran lebih kecil terbuat dari logam. Akibat perkembangan budaya dianyumas dan orentasi suatu senipertunjukan juga yang dalam tahap awal merupakan sarana ritual telah bergesear pada bisnis seni pertunjukan, pembenahan dalam ebeg-pun segera di lakukan. penataan padaebeg yang dapat meliputi bentuk iringan, penghalusan gerak tari, kostum ataupun propertinya banyak di lakukan oleh seniman Banyumas.

Pada saat pertunjukan ebeg para pemain masih dalam tingkat kesadaran yang penuh. Mereka mempertontonkan kebolehannya menari. Hingga tiba saatnya janturan, yakni puncak dari pertunjukan ebeg. Gending mulai berubah menjadi gending eling eling, dengan tempo yang cepat.

Para penari mempercepat tarianya mengikuti irama gending. Pengaruh magis semakin terasa. Seolah – olah indang berada di atas – melayang - layang. Bau kemenyan menebar kemana – mana dan terasa sangat menusuk hidung. Mereka yakin indang makin mendekat. Dan sebagian penonton muali bertingkah aneh.

Pada saat seperti ini, orang kehilangan kesadaraanya. Namun mereka tetap harus segera disadarkan agar tetap bisa menari, kendati masih dalam pengaruh indang. Namun gerakan sebenarnya sudah mulai berubah. Patah – patah dan monoton. Indang sebenarnya sudah masuk ke dalam tubuh dan berada di ruas - ruas tulang manusia. Semakin banyak indang atau arwah yang datang diundang, pesta akan semakin meriah, sehingga biasanya penari bisa kesurupan lebih dari tiga kali. Sering terjadi, penari yang sudah pulih, kembali hilang kesadarannya.

Kalau sudah begini suasana memang kacau dan tidak terkendali. Tugas penimbulah yang menjadi berat. Apabila jumlah indang yang datang lebih banyak dari penari, maka penonton yang menjadi sasaran. Indang menggunakan mereka sebagai perantara. masyarakat di sini menyebutnya wuru. Ada juga orang yang sengaja ingin wuru. Ketua rombongan atau penimbul, akan memberikannya. Yah sebuah kesenian tradisional yang hampir punah.
Dari berbagai sumber.



Wisata Baturaden

Baturaden adalah sebuah tujuan wisata di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia. Baturaden terletak di sebelah utara kota Purwokerto tepat di lereng sebelah selatan Gunung Slamet. Baturaden karena letaknya di lereng gunung menjadikan kawasan ini memiliki hawa yang sejuk dan cenderung sangat dingin terutama di malam hari. Baturaden juga merupakan daerah wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal, terutama pada hari minggu dan hari libur nasional. Kondisi tersebut menyebabkan banyak hotel dan vila didirikan di sini.

Baturaden dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun umum. Jarak dari kota Purwokerto sekitar 20 km dan dapat ditempuh dalam waktu 15 menit dengan lalu lintas yang tidak terlalu padat. Apabila ingin menggunakan kendaraan umum wisatawan dapat naik angkutan kota dari terminal di Purwokerto dan turun di terminal lokawisata Baturaden. Jika ingin lebih praktis wisatawan dapat menggunakan taksi. Jika memutuskan untuk menggunakan kendaraan pribadi, sebaiknya hati-hati karena jalan yang menanjak dengan kemiringan sekitar 30 derajat.

Lokasi wisata

* Pancuran Pitu Baturaden
* Pancuran Telu
* Telaga Sunyi
* Bumi Perkemahan
* Pemandian Air Panas
* Curug Ceheng
* Wahana Wista Lembah Combong
* Combong Valley Paint Ball and War Games
* Kaloka Widya Mandala

Taman Kaloka Widya Mandala Baturraden atau Wisata Pendidikan Wanasuka Baturraden merupakan kebun binatang sekaligus sebagai tempat wisata pendidikan yang diresmikan oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Banyumas H. Djoko Sudantoko pada tanggal 17 mei 1995. Tempat ini pernah mendapatkan prestasi yaitu Visit Indonesia Dekade 1991-2000, Penobatan Anugerah Wisata Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta di Semarang pada tanggal 23 Agustus 1996.

Di Taman Kaloka Widya Mandala Baturraden terdapat berbagai macam binatang yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri seperti ; Australia, Asia dan Belanda. Seperti : Sapi kaki lima, Kambing kaki tiga, Gajah, Beruk (Buing), Buaya Irian, Ular Sanca, Kaswari, Monyet, Landak, Iguana, Cendrawasih, Kelelawar, Ayam Kate, Ayam Mutiara, Orang Utan, Elang Bondol, Rusa.Di tempat ini juga terdapat Museum Satwa Langka, seperti: Harimau Sumatera, Beruang Madu, dan Macan Dahan.

Banyumas SATRIA


Kabupaten Banyumas berdiri pada tahun 1582, tepatya pada hari Jum'at Kliwon tanggal 6 April 1582 Masehi, atau bertepatan tanggal 12 Robiul Awwal 990 Hijriyah.
Kemudian ditetapkan dengan Peraturan Daerah (PERDA) Kabupaten Daerah Tingkat II Banyumas Nomor 2 tahun 1990.

Keberadaan sejarah Kabupaten Banyumas sebagai pendirinya yang pertama adalah Raden Joko Kahiman yang kemudian meniadi Bupati yang pertama dikenal dengan iulukan atau gelar ADIPATI MARAPAT (ADIPATI MRAPAT).

Riwayat singkatnya diawali dari jaman Pemerintahan Kesultanan PAJANG, di bawah Raja Sultan Hadiwijaya.
Kisah pada saat itu telah terjadi suatu peristiwa yang menimpa diri (kematian) Adipati Wirasaba ke VI (Warga Utama ke I) dikarenakan kesalahan paham dari Kanjeng Sultan pada waktu itu, sehingga terjadi musibah pembunuhan di Desa Bener, Kecamatan Lowano, Kabupaten Purworejo (sekarang) sewaktu Adipati Wirasaba dalam perjalanan pulang dari pisowanan ke Pajang. Dari peristiwa tersebut untuk menebus kesalahannya maka Sultan Pajang, memanggil putra Adipati Wirasaba namun tiada yang berani menghadap.

Kemudian salah satu diantaranya putra menantu yang memberanikan diri menghadap dengan catatan apabila nanti mendapatkan murka akan dihadapi sendiri, dan apabila mendapatkan anugerah/kemurahan putra-putra yang lain tidak boleh iri hati. Dan ternyata diberi anugerah diwisuda menjadi Adipati Wirasaba ke VII.
Semenjak itulah putra menantu yaitu R. Joko Kahiman menjadi Adipati dengan gelar ADIPATI WARGA UTAMA II.

Kemudian sekembalinya dari Kasultanan Pajang atas kebesaran hatinya dengan seijin Kanjeng Sultan, bumi Kadipaten Wirasaba dibagi menjadi empat bagian diberikan kepada iparnya.
1. Wilayah Banjar Pertambakan diberikan kepada Kyai Ngabei Wirayuda.
2. Wilayah Merden diberikan kepada Kyai Ngabei Wirakusuma.
3. Wilayah Wirasaba diberikan kepada Kyai Ngabei Wargawijaya.
4. Wilayah Kejawar dikuasai sendiri dan kemudian dibangun dengan membuka hutan Mangli dibangun pusat pemerintahan dan diberi nama Kabupaten Banyumas.

Karena kebijaksanaannya membagi wilayah Kadipaten menjadi empat untuk para iparnya maka dijuluki Adipati Marapat.

Siapakah Raden Joko Kahiman itu ?

R. Joko Kahiman adalah putra R. Banyaksasro dengan ibu dari Pasir Luhur. R. Banyaksosro adalah putra R. Baribin seorang pangeran Majapahit yang karena suatu kesalahan maka menghindar ke Pajajaran yang akhirnya dijodohkan dengan Dyah Ayu Ratu Pamekas putri Raja Pajajaran. Sedangkan Nyi Banyaksosro ibu R. Joko Kahiman adalah putrid Adipati Banyak Galeh (Mangkubumi II) dari Pasir Luhur semenjak kecil R. Joko Kahiman diasuh oleh Kyai Sambarta dengan Nyai Ngaisah yaitu putrid R. Baribin yang bungsu.
Adipati Banyak Geleh adalah keturunan ke 9 dari R. Aria Bangah dari Galuh Pakuan putra Pajajaran.

Dari sejarah terungkap bahwa R. Joko Kahiman adalah merupakan SATRIA yang sangat luhur untuk bisa diteladani oleh segenap warga Kabupaten Banyumas khususnya karena mencerminkan :
  1. Sifat altruistis yaitu tidak mementingkan dirinya sendiri.
  2. Merupakan pejuang pembangunan yang tangguh, tanggap dan tanggon.
  3. Pembangkit jiwa persatuan kesatuan (Majapahit, Galuh Pakuan, Pajajaran) menjadi satu darah dan memberikan kesejahteraan ke kepada semua saudaranya.
Dengan demikian tidak salah apabila MOTO DAN ETOS KERJA UNTUK Kabupaten Banyumas SATRIA. Candra atau surya sengkala untuk hari jadi Kabupaten Banyumas adalah "BEKTINING MANGGALA TUMATANING PRAJA" artinya tahun 1582.

Bila diartikan dengan kalimat adalah "KEBAKTIAN DALAM UJUD KERJA SESEORANG PIMPINAN / MANGGALA MENGHASILKAN AKAN TERTATANYA ATAU TERBANGUNNYA SUATU PEMERINTAHAN".


PARA ADIPATI DAN BUPATI SEMENJAK BERDIRINYA
KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 1582
  1. R. Joko Kahiman, Adipati Warga Utama II
  2. R. Ngabei Merta Sura (1560)
  3. R. Ngabei Mertasura II (Ngabei Kalidethuk) (1561 -1620)
  4. R. Ngabei Mertayuda I (Ngabei Bawang) (1620 - 1650)
  5. R. Tumenggung Mertayuda II (R.T. Seda Masjid, R.T. Yudanegara I) Tahun 1650 - 1705
  6. R. Tumenggung Suradipura (1705 -1707)
  7. R. Tumenggung Yudanegara II (R.T. Seda Pendapa) Tahun 1707 -1743.
  8. R. Tumenggung Reksapraja (1742 -1749)
  9. R. Tumenggung Yudanegara III (1755) kemudian diangkat menjadi Patih Sultan Yogyakarta bergelar Danureja I.
  10. R. Tumenggung Yudanegara IV (1745 - 1780)
  11. R.T. Tejakusuma, Tumenggung Kemong (1780 -1788)
  12. R. Tumenggung Yudanegara V (1788 - 1816)
  13. Kasepuhan : R. Adipati Cokronegara (1816 -1830)
  14. Kanoman : R. Adipati Brotodiningrat (R.T. Martadireja) R.T. Martadireja II (1830 -1832) kemudian pindah ke Purwokerto (Ajibarang).
  15. R. Adipati Cokronegara I (1832- 1864)
  16. R. Adipati Cokronegara II (1864 -1879)
  17. Kanjeng Pangeran Arya Martadireja II (1879 -1913)
  18. KPAA Gandasubrata (1913 - 1933)
  19. RAA. Sujiman Gandasubrata (1933 - 1950)
  20. R. Moh. Kabul Purwodireja (1950 - 1953)
  21. R. Budiman (1953 -1957)
  22. M. Mirun Prawiradireja (30 - 01 - 1957 / 15 - 12 - 1957)
  23. R. Bayi Nuntoro (15 - 12 - 1957 / 1960)
  24. R. Subagio (1960 -1966)
  25. Letkol Inf. Sukarno Agung (1966 -1971)
  26. Kol. Inf. Poedjadi Jaringbandayuda (1971 -1978)
  27. Kol. Inf. R.G. Rujito (1978 -1988)
  28. Kol. Inf. H. Djoko Sudantoko (1988 - 1998)
  29. Kol. Art. HM Aris Setiono, SH, S.IP (1998 - 2008)
  30. Drs. H. Mardjoko, MBA (2008-sekarang)

Sumber: berbagai sumber.

Bahasa Banyumasan

Dialek Banyumasan atau sering disebut Bahasa Ngapak Ngapak adalah kelompok bahasa bahasa Jawa yang dipergunakan di wilayah barat Jawa Tengah, Indonesia. Beberapa kosakata dan dialeknya juga dipergunakan di Banten utara serta daerah Cirebon-Indramayu. Logat bahasanya agak berbeda dibanding dialek bahasa Jawa lainnya. Hal ini disebabkan bahasa Banyumasan masih berhubungan erat dengan bahasa Jawa Kuna (Kawi).

Bahasa Banyumasan terkenal dengan cara bicaranya yang khas. Dialek ini disebut Banyumasan karena dipakai oleh masyarakat yang tinggal di wilayah Banyumasan.

Seorang ahli bahasa Belanda, E.M. Uhlenbeck, mengelompokan dialek-dialek yang dipergunakan di wilayah barat dari Jawa Tengah sebagai kelompok (rumpun) bahasa Jawa bagian barat (Banyumasan, Tegalan, Cirebonan dan Banten Utara). Kelompok lainnya adalah bahasa Jawa bagian Tengah (Surakarta, Yogyakarta, Semarang dll) dan kelompok bahasa Jawa bagian Timur.

Kelompok bahasa Jawa bagian barat (harap dibedakan dengan Jawa Barat / Bahasa Sunda) inilah yang sering disebut bahasa Banyumasan (ngapak-ngapak).

Secara geografis, wilayah Banten utara dan Cirebon-Indramayu memang berada di luar wilayah berbudaya Banyumasan tetapi menurut budayawan Cirebon TD Sudjana, logat bahasanya memang terdengar sangat mirip dengan bahasa Banyumasan. Hal ini menarik untuk dikaji secara historis.

Dibandingkan dengan bahasa Jawa dialek Yogyakarta dan Surakarta, dialek Banyumasan banyak sekali bedanya. Perbedaan yang utama yakni akhiran 'a' tetap diucapkan 'a' bukan 'o'. Jadi jika di Solo orang makan 'sego' (nasi), di wilayah Banyumasan orang makan 'sega'. Selain itu, kata-kata yang berakhiran huruf mati dibaca penuh, misalnya kata enak oleh dialek lain bunyinya ena, sedangkan dalam dialek Banyumasan dibaca enak dengan suara huruf 'k' yang jelas, itulah sebabnya bahasa Banyumasan dikenal dengan bahasa Ngapak atau Ngapak-ngapak.

sumber: Wikimedia

Thursday, June 26, 2008

Ajibarang

Ajibarang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan ini terletak di bagian utara Kabupaten Banyumas, sekitar 18 km dari kota Purwokerto.
Membawahi 27 desa menjadikan Ajibarang sebuah kecamatan yang cukup besar populasi penduduknya.
Dan salah satu desa satelitte Ajibarang adalah Pancurendang. Dengan berbagai macam kegiatan aktivitas penduduknya dari petani yang paling besar pedagang, guru dan berbagai profesi lainnya sampai pengusaha warnet bahkan ISP S2Network.