Ebeg merupakan bentuk kesenian tari daerah banyumas yang menggunakan peroperti jaranan (boneka kuda) terbuat dari anyaman bambu. Tarian Ebeg di daerah Banyumas menggambarkan prajurit perang yang sedang menunggang kuda. Gerak tari yang menggambarkan kegagahan di peragakan oleh pemain ebeg. Didalam suatu sajian ebeg akan melalui satu sesen yang unik yang biasanya di tempatkan di tengah pertunjukan. Sesen tersebut sebagai mana di kenal dalam bahasa Banyumasan dengan Mendhem (intrans). Pemain akan keseurupan dan mulai melakukan atraksi-atraksi unik. Bentuk atraksi tersebut seperti halnya: makan Beling atau pecahan kaca, makan dedaunan yang belum matang, makan daging ayam yang masih hidup, berlagak seperti monyet, ular, dan masih yang lainnya.
Ebeg termasuk kesenian yang tergolong cukup di perhitungkan dalam hal umur. Diperkirakan kesenian jenis ini sudah ada sejak jaman purba tepatnya ketika manusia mulai menganut aliran kepercayaan animisme dan dinamisme. Salah satu bukti yang menguatkan Ebeg dalam jajaran kesenian tua adalah adanya bentuk-bentuk intrans atu wuru. Bentuk-bentuk seperti ini merupakan ciri dari kesenian yang terlahir pada jaman animisme dan dinamisme.
Pertunjukan Ebeg biasanya di iringi dengan alat musik yang disebut Bendhe. Alat musik ini memiliki ciri fisik seperti gong akan tetapi berukuran lebih kecil terbuat dari logam. Akibat perkembangan budaya dianyumas dan orentasi suatu senipertunjukan juga yang dalam tahap awal merupakan sarana ritual telah bergesear pada bisnis seni pertunjukan, pembenahan dalam ebeg-pun segera di lakukan. penataan padaebeg yang dapat meliputi bentuk iringan, penghalusan gerak tari, kostum ataupun propertinya banyak di lakukan oleh seniman Banyumas.
Pada saat pertunjukan ebeg para pemain masih dalam tingkat kesadaran yang penuh. Mereka mempertontonkan kebolehannya menari. Hingga tiba saatnya janturan, yakni puncak dari pertunjukan ebeg. Gending mulai berubah menjadi gending eling eling, dengan tempo yang cepat.
Para penari mempercepat tarianya mengikuti irama gending. Pengaruh magis semakin terasa. Seolah – olah indang berada di atas – melayang - layang. Bau kemenyan menebar kemana – mana dan terasa sangat menusuk hidung. Mereka yakin indang makin mendekat. Dan sebagian penonton muali bertingkah aneh.
Pada saat seperti ini, orang kehilangan kesadaraanya. Namun mereka tetap harus segera disadarkan agar tetap bisa menari, kendati masih dalam pengaruh indang. Namun gerakan sebenarnya sudah mulai berubah. Patah – patah dan monoton. Indang sebenarnya sudah masuk ke dalam tubuh dan berada di ruas - ruas tulang manusia. Semakin banyak indang atau arwah yang datang diundang, pesta akan semakin meriah, sehingga biasanya penari bisa kesurupan lebih dari tiga kali. Sering terjadi, penari yang sudah pulih, kembali hilang kesadarannya.
Kalau sudah begini suasana memang kacau dan tidak terkendali. Tugas penimbulah yang menjadi berat. Apabila jumlah indang yang datang lebih banyak dari penari, maka penonton yang menjadi sasaran. Indang menggunakan mereka sebagai perantara. masyarakat di sini menyebutnya wuru. Ada juga orang yang sengaja ingin wuru. Ketua rombongan atau penimbul, akan memberikannya. Yah sebuah kesenian tradisional yang hampir punah.
Dari berbagai sumber.
Ebeg termasuk kesenian yang tergolong cukup di perhitungkan dalam hal umur. Diperkirakan kesenian jenis ini sudah ada sejak jaman purba tepatnya ketika manusia mulai menganut aliran kepercayaan animisme dan dinamisme. Salah satu bukti yang menguatkan Ebeg dalam jajaran kesenian tua adalah adanya bentuk-bentuk intrans atu wuru. Bentuk-bentuk seperti ini merupakan ciri dari kesenian yang terlahir pada jaman animisme dan dinamisme.
Pertunjukan Ebeg biasanya di iringi dengan alat musik yang disebut Bendhe. Alat musik ini memiliki ciri fisik seperti gong akan tetapi berukuran lebih kecil terbuat dari logam. Akibat perkembangan budaya dianyumas dan orentasi suatu senipertunjukan juga yang dalam tahap awal merupakan sarana ritual telah bergesear pada bisnis seni pertunjukan, pembenahan dalam ebeg-pun segera di lakukan. penataan padaebeg yang dapat meliputi bentuk iringan, penghalusan gerak tari, kostum ataupun propertinya banyak di lakukan oleh seniman Banyumas.
Pada saat pertunjukan ebeg para pemain masih dalam tingkat kesadaran yang penuh. Mereka mempertontonkan kebolehannya menari. Hingga tiba saatnya janturan, yakni puncak dari pertunjukan ebeg. Gending mulai berubah menjadi gending eling eling, dengan tempo yang cepat.
Para penari mempercepat tarianya mengikuti irama gending. Pengaruh magis semakin terasa. Seolah – olah indang berada di atas – melayang - layang. Bau kemenyan menebar kemana – mana dan terasa sangat menusuk hidung. Mereka yakin indang makin mendekat. Dan sebagian penonton muali bertingkah aneh.
Pada saat seperti ini, orang kehilangan kesadaraanya. Namun mereka tetap harus segera disadarkan agar tetap bisa menari, kendati masih dalam pengaruh indang. Namun gerakan sebenarnya sudah mulai berubah. Patah – patah dan monoton. Indang sebenarnya sudah masuk ke dalam tubuh dan berada di ruas - ruas tulang manusia. Semakin banyak indang atau arwah yang datang diundang, pesta akan semakin meriah, sehingga biasanya penari bisa kesurupan lebih dari tiga kali. Sering terjadi, penari yang sudah pulih, kembali hilang kesadarannya.
Kalau sudah begini suasana memang kacau dan tidak terkendali. Tugas penimbulah yang menjadi berat. Apabila jumlah indang yang datang lebih banyak dari penari, maka penonton yang menjadi sasaran. Indang menggunakan mereka sebagai perantara. masyarakat di sini menyebutnya wuru. Ada juga orang yang sengaja ingin wuru. Ketua rombongan atau penimbul, akan memberikannya. Yah sebuah kesenian tradisional yang hampir punah.
Dari berbagai sumber.
No comments:
Post a Comment